Negeri Van Oranje

Hai!

This is my very first post under the category of Review: Movies, well sebenernya aku agak bingung sih whether I should put this topic di review movie or books karna I think I will talk about both in this post, tapi ya yaudah deh.

Anyway, minggu lalu I had a what-so-called as reading week yang sebenernya artinya sih minggu tenang sebelum UAS gitu, and my mom requested me to go back to Bandung, so I did. Terus pas lagi disana, tercetuslah ide nonton film Negeri Van Oranje yang baru dirilis itu dan berhubung kami semua kangen Belanda dan isinya (iya, kita pernah tinggal disana), akhirnya kita nonton deh dengan high expectation.

negerivanoranje-poster

But then when the movie was over, wah…we were all dissapointed.

Sebenernya aku pun udah baca bukunya kan, dan ya lagi-lagi… masalah yang sama terjadi lagi dengan buku yang difilmkan, gagal. Jujur menurut pandanganku filmnya aneh, mengada-ngada, kurang rasional karna berbagai hal.

Emang aku ngga memungkiri kalau pasti susah untuk bikin film adaptasi dari buku karna ngga bisa semuanya dimasukin jadi ngga bisa detail kan, tapi masalahnya bukan disitu sih. I think that the center of the problem justru di fokusnya, whereas the book with its great quality focused more on the adventures, value of friendship, struggles of living abroad with less money than what’s needed, the movie put its emphasize on the romance aspect instead. Baru aja mulai filmnya, langsung yang dibahas mengenai kehidupan cintanya Lintang (Tatjana) dan siapa yang kira-kira akan dipilih.

Selain itu, Belandanya itu ngga hidup, cuma jadi background aja. Ngga ada tuh terlihat menonjolkan kebelandaannya selain sepeda dan Koningsdag (King’s Day) waktu semua berpakaian oranye, itupun baru sebentar langsung ganti scene karna si ceweknya mabuk. Padahal di buku, Belandanya menonjol banget mulai dari Openbaar vervoer  – public transportation, strippenkaart atau sekarang udah jadi OV chipkaart, dan lain-lain. Selain itu, di buku juga kan ceritanya semua anak beasiswa ya kecuali Geri kalau ngga salah, tapi di film semuanya hidup enak tuh, bahkan kemana-mana naik mobil padahal perasaan mahasiswa disana pada naik tram atau bus deh, bahkan fiets – sepeda. Yang lebih anehnya lagi, tempat tinggal mereka bagus-bagus banget, mewah, padahal di buku tertulis bahwa mereka anak beasiswa dan mencari flats yang semurah mungkin.

Menurutku secara subjektif sih filmnya…gagal. Jalan ceritanya cuma fokus di Lintang dan siapa yang akan Lintang pilih. Bukan persahabatan, bukan perjuangan, bukan kehidupan, bahkan bukan Belandanya sendiri. Untungnya filmnya masih menyuguhkan pemandangan bagus yang bikin nostalgia dan bikin aku tetep duduk manis di dalam studio kaya Rotterdam Centraal Station, Keukeunhof, Konigsdag,etc. Tapi kan aku nonton film bukan untuk liat gambar aja, tapi mau ceritanya. Kalau mau gambar aja sih mendingan googling sendiri aja hihi. Agak menyesal nonton, tapi untungnya yang bayarin ayah jadi ya ngga nyesar-nyesal banget.

Overall if I haven’t read the book, I would give this movie a 6/10, tapi unfortunately I have read the book dan bahkan lived in the country itself jadi nilaiku berkurang ke 4 out of 10.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s